Anak laki-laki peserta didikku yang duduk di kelas dua
SD sangat cengeng sekali. Sebentar-bentar menangis. Terlihat sangat sedih
sekali. Berurai air mata. Padahal hanya karena masalah kecil. Misalnya,
penghapusnya lupa naruk mana? Atau lupa bawa buku. Suatu waktu dapat berbincang
denga ibunya, dia malah balik nanya. “Kenapa anakku cengeng sekali?”
Kami terlibat satu perbincangan yang serius. Menurut
buku yang pernah aku baca, cengeng atau sebentar-bentar menangis jika untuk
usia anak dibawah dua tahun kebawah. Itu hal yang wajar. Karena anak belum
dapat mengungkapkan keinginannya secara verbal dengan sempurna. Nah, kalau anak
tersebut sudah berusia tujuh tahun, bukankah sudah bisa mengungkapkan keinginannya?
Dari cerita sang ibu, anak tersebut tidak pernah
melihat rupa sang ayah. Sang ayah pergi ketika usianya 6 bulan di kandungan.
Jadi, kemungkinan besar yang membuat anak tersebut cengeng adalah emosi sang
ibu yang tidak stabil ketika anak dalam kandungan. Bisa jadi terlalu sedih.
Kondisi emosional sang ibu membawa karakter cengeng pada anak.
Tidak menyesali dengan apa yang telah berlaku, inilah
cara mengatasi anak cengeng:
Berempati
Hal pertama yang dapat dilakukan orang tua mengatasi
anak yang cengeng sekali adalah berempati. Tunjukan empati bahwa kita
memperhatikannya. Menyayanginya. Kita juga ikut sedih tentang hal yang
dirasakannya. Namun, setelah anak tenang berusahalah untuk menjelaskan bahwa
menangis karena hal kecil itu kurang terlalu bagus. Ananda harus menguranginya.
Memberikan reward atau punishment
Langkah kedua setelah anak mulai paham bahwa sebentar
sebentar menangis itu tidak baik. Berilah support agar dia bisa menahannya.
Sekuat mungkin. Jika bisa berikan reward atau penghargaan. Misalnya berikan
anak makanan atau minuman kesukaannya. Sebaliknya jika anak gagal menahan rasa ingin
menangisnya berikan punishment atau hukuman. Misalnya, tidak diijinkan beli es
kream atau bermain kesukaannya.
“Kalau menangisnya tambah kenceng gimana dong?”
“Diamkan! berikan dia waktu untuk tenang.” Kemudia lakukan
evaluasi.
Mendorong anak ungkapkan keinginannya secara verbal
Doronglah anak agar dapat ungkapkan keinginannyasecara verbal. Dapat mengungkapkan kepada orang lain tentang apa keingianannya.
Orang tua bisa memancing dengan , “Nak, kalau kamu terus nangis, Ibu gak bisa
dengar kamu mau ngomong apa? Kamu mau apa. Coba diam, dan ceritakan?” sambil
mengusap air matanya, insya allah anak jadi diam dan mulai bercerita.
Merubah secara perlahan
Bisa jadi anak cengeng sekali karena pola asuh yang
terlanjur salah. Terlalu memanjakan. Terlalu melayani. Terlalu meloloskan
keinginannya. Nah, coba rubah secara perlahan pola asuh tersebut supaya anak
menjadi mandiri.
Do’akan anak agar menjadi anak mandiri dan tidak
cengeng
Doa orang tua adalah senjata ampuh untuk merubahtabiat anak agar tidak cengeng. Doakan ia selalu agar mandiri. Menjadi anak
yang baik. Jadi anak yang sholeh dan sholehah. Waktu tepat untuk berdoa adalah
selesai shalat. Kalau sehari minimal didoakan sebanyak lima kali. Apakah anak
masih cengeng sekali?
Aku belum tahu, apakah langkah diatas berhasil atau
tidak. Karena sejak pandemic covid 19 melanda, anak-anak belajar dari rumah.
Jadi tidak bisa melihat perubahan tingkah laku sang anak. Apakah masih cengeng
atau sudah belajar mandiri. Sebab, langkah diatas tidak mudah, perlu usaha yang
keras, kesabaran dan keyakinan bahwa sikap cengeng bisa diperbaiki.
Nah, kira-kira teman-teman punya cerita apa tenatang
anak cengeng. Share yuk di kolom komentar, dan mari selalu belajar jadi orang
tua yang baik.

No comments
Post a Comment